Detik.com – Developer Lokal Lirik Konten Edukasi

Read original source

Developer aplikasi lokal semakin kreatif membuat konten yang lebih variatif. Kreativitas ini juga mendorong tren baru di pangsa pasar aplikasi.

“Games udah gak terlalu–banyak. Sekarang banyaknya yang buat apps model social, dating,mengkoneksikan satu sama lain, mempertemukan orang,” kata CEO developer hub Dicoding Narenda Wicaksono, dihubungi detikINET, Rabu (28/10/2015).

Di Dicoding sendiri, para developer asuhannya banyak yang melirik segmen edukasi. Dikatakan Narenda, potensi pasar edukasi di Indonesia sangat besar dan strategis nilainya.

“Strategis karena untuk memenangkan pasar ini para developer dituntut tidak hanya mampu membuat konten yang laku dan banyak diminati, tetapi juga harus berupa konten yang mendidik bagi generasi muda Indonesia,” ujarnya.

Menilik data Badan Pusat Statistik, proyeksi pasar anak usia 0-14 tahun di Indonesia pada tahun 2015 mencapai lebih dari 69 juta atau sekitar 27% dari total penduduk Indonesia.

Selain jumlahnya yang besar sebagai pasar consumer goods saat ini, populasi tersebut juga merupakan cerminan dari potensi pasar masa depan yang akan dikuasai oleh produsen yang berhasil memenangkanmindshare di benak generasi muda sekarang ini.

“Market kita gede banget di sini. Karena konten edukasi sangat locally relevant,” terang ayah dua anak ini.

Beberapa waktu lalu, Dicoding pun mengumpulkan 48 developer dari 27 kota se-Indonesia dalam tantangan ‘Create Any Education Apps or Games’ bekerjasama dengan Intel Indonesia.

Hingga berakhirnya ajang kompetisi tersebut, terdapat 50 submisi karya yang masuk untuk dilombakan dalam salah satu dari tiga kategori di ajang tersebut, yaitu aplikasi pendidikan untuk tingkat TK, SD, dan SMP.

Setelah diseleksi dari seluruh karya yang terkumpul, enam aplikasi dan games dinobatkan sebagai pemenang dari tiap kategori sehingga secara keseluruhan terdapat 18 karya pemenang.

Keenam aplikasi dan games yang memenangkan tantangan untuk tingkat pra-sekolah dan taman kanak-kanak memiliki keutamaan pada fiturnya yang ramah terhadap pengguna, penggunaan warna-warna cerah dan karakter yang menarik untuk anak-anak usia dini.

Di antara para pemenang tantangan ini ada Belajar Berhitung dari PaperPlay Studio dan Marbel Angka dari Educa Studio yang memfokuskan pada pembelajaran angka-angka dan operasi matematika sederhana.

Sementara Pippo Belajar Alfabet dari Arsanesia, Belajar Menulis Bersama Boci karya Rolling Glory, dan Say It! ABC yang dibuat oleh Sawo Studio, memilih untuk masuk pada pengenalan alfabet dan tulisan.

Adapun La.. La.. La.. – Lantunan Lagu Lagu Anak Indonesia dari Gundu Productions menempatkan perhatian pada lagu-lagu anak Indonesia yang mulai kurang diminati di zaman modern sekarang ini.

Sementara untuk kategori Sekolah Dasar, topik yang diangkat lebih bervariasi, mulai dari aplikasi belajar matematika lewat Marbel Berhitung dan Mencongak Perkalian, bidang IPA lewat Marbel Bagian Tubuh, hingga aplikasi Opera Merah Putih buatan Clooper Project yang mengajak pengguna untuk mengenal budaya, rumah daerah, kostum, serta kebudayaan dan adat masyarakat Indonesia.

Tak kalah juga aplikasi yang mengangkat konten edukasi ilmu geografi dan ilmu sosial yaitu Seagania karya B201 Developer Group yang memberikan cara alternatif sekaligus menyenangkan dalam belajar mengenai negara-negara di ASEAN. Selain itu, ada aplikasi Tryout UN SD dari Omega Mediatama yang menawarkan latihan persiapan Ujian Nasional SD.

“Menyadari pentingnya peranan developer lokal dalam mengawal konten edukasi bagi anak negeri, Intel berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya yang mampu mengakselerasi para developer untuk membuat aplikasi dan games edukasi terbaik yang mendidik, menarik, positif, dan inovatif,” kata Country Manager Intel Indonesia Harry K. Nugraha.

Intel Indonesia dan Dicoding memberikan total 90.000 XP (experience points) bagi para pemenang tantangan ini. XP merupakan experience points atau poin Dicoding yang dapat ditukarkan dengan berbagai rewards menarik, seperti smartphone, laptop, dan hadiah-hadiah lainnya untuk memajukan kinerja developer menjadi lebih baik lagi.

(rns/fyk)

Codepolitan.com – Sebanyak 18 Games dan Aplikasi Pendidikan Raih Penghargaan dari Intel dan Dicoding

Read original source

Beberapa waktu yang lalu, Dicoding, dengan dukungan dari Intel Indonesia menyelenggarakan tantangan “Create Any Education Apps or Games”. Kompetisi ini diikuti oleh 48 pengembang aplikasi (developer) dari 27 kota se-Indonesia. Sampai waktu kompetisi berakhir, terdapat 50 karya yang didaftarkan untuk mengikuti kompetisi ini. Kelima puluh aplikasi yang didaftarkan akan diikutsertakan kedalam salah satu dari tiga kategori yaitu aplikasi pendidikan tingkat TK, SD, dan SMP. Setelah dilakukan penilaian, terpilihkan enam aplikasi dan games yang dinobatkan sebagai pemenang masing-masing kategori sehingga total terdapat 18 pemenang. Para pemenang masing-masing mendapatkan 5,000 Dicoding XP Points dari Intel yang dapat ditukarkan dengan berbagai rewards menarik di Dicoding.

Para pemenang kompetisi ini patut diancungi jempol, terutama yang mengikuti tantangan kategori TK. Mereka dapat mengembangkan aplikasi atau games yang ramah pengguna, memiliki warna-warna yang memikat mata serta karakter yang lucu sehingga menarik anak-anak untuk memainkannya. Jika pembaca masih tidak percaya, tengok saja langsung aplikasi pemenang kategori TK di playstore. Ada Belajar Berhitung dari PaperPlay Studio dan Marbel Angka dari Educa Studio yang mengambil topik pembelajaran angka dan operasi matematika sederhana. Ada Pippo Belajar Alfabet dari Arsanesia, Belajar Menulis bersama Bocci karya Rolling Glory, danSay It! ABC yang dikembangkan oleh Sawo Studio, yang memilih topik pengenalan alfabet dan tulisan. Ada pula La.. La.. La.. – Lantunan Lagu Lagu Anak Indonesia dari Gundu Productions yang memilih untuk mengenalkan lagu-lagu anak Indonesia yang kurang diminati saat ini.

Sementara itu untuk kategori SD, topik yang dipilih lebih bervariasi. Ada aplikasi belajar matematika yang dibawakan oleh aplikasi Marbel Berhitungdan Mencongak Perkalian, aplikasi IPA lewat Marbel Bagian Tubuh, ada pula aplikasi Opera Merah Putih dari Clooper Project yang mengajar pengguna lebih mengenal budaya, rumah daerah, kostum serta kebudayaan dan adat masyarakat Indonesia. Dibidang Geografi dan Ilmu Sosial, ada Seagania karya B201 Developer Group yang memberikan cara alternatif mempelajari negara-negara di ASEAN. Bagi siswa yang mencari sarana latihan persiapan UN SD terdapat aplikasi Tryout UN SD dari Omega Mediatama.

Dikategori SMP, aplikasi dan games yang masuk jauh lebih bervariasi dan kompleks dibandingkan dua kategori sebelumnya, seperti GeograpieaIndonesia yang menggunakan peta buta untuk membantu pembelajaran Geografi di kelas dan Asah Segitiga Siku yang berupaya membantu pembelajaran Matematika SMP agar lebih efektif dan menyenangkan. Ada juga Kamus Budaya Indonesia yang memudahkan pengguna untuk mencari tahu tentang budaya Indonesia serta Game-game Merdeka yang mengangkan permainan-permainan tradisional yang biasa dilombakan di HUT Kemerdekaan RI. Awesome Quiz dan Tryout UN SMP turut meramaikan kategori SMP melalui aplikasi latihan kuis untuk pelajaran Biologi, Geografi, Sosiologi, Sejarah, dan Psikotes.

“Dicoding berkomitmen untuk terus menjembatani kebutuhan pasar dengan keahlian yang dimiliki oleh para pengembang (developer),” tutur CEO Dicoding Narenda Wicaksono. Langkah Dicoding didukung penuh oleh Intel seperti yang diungkapkan oleh Harry K. Nugraha, Country Manager Intel Indonesia, “Intel Indonesia memiliki komitmen untuk mendukung inovasi teknologi lokal dan pengintegrasian teknologi dalam pendidikan, kerjasam dengan Dicoding merupakan salha satu bukti komitmen kami”.

(bas/dicoding)

Dailysocial.id – Dicoding dan Intel Umumkan Pemenang Tantangan Create Any Education Apps or Games

Read original source

Dicoding yang merupakan platform penghubung pengembang aplikasi dan kebutuhan baru saja mengadakan tantangan bertajuk “Create Any Education Apps or Games” untuk tingkat TK, SD, dan SMP. Tantangan yang terselenggara berkat kerja sama Dicoding dan Intel Indonesia ini berhasil mengumpulkan setidaknya 48 pengembang aplikasi dari 27 kota di Indonesia dengan 50 karya yang dikumpulkan.

Tantangan ini telah menemukan masing-masing enam aplikasi yang menjadi terbaik dan dinobatkan sebagai pemenang. Selanjutnya 18 karya terbaik tersebut berhak mendapatkan 5.000 Dicoding XP Points dari Intel yang dapat ditukarkan dengan berbagai reward menarik di Dicoding.

Potensi pasar pendidikan di Indonesia tampaknya menarik perhatian para pengembang aplikasi lokal untuk berlomba-lomba menciptakan karya terbaik mereka. Sesuai dengan data statistik dari Badan Pusat Statistik, proyeksi pasar anak usia 0-14 tahun di Indonesia di tahun ini mencapai 27% dari total penduduk Indonesia atau setara dengan 69 juta jiwa.

“Potensi pasar edukasi di Indonesia sangat besar dan strategis nilainya. Strategis karena untuk memenangkan pasar ini para developer dituntut tidak hanya mampu membuat konten yang laku dan banyak diminati, tetapi juga harus berupa konten yang mendidik bagi generasi muda Indonesia,” ujar CEO Dicoding Narenda Wicaksono.

Keenam aplikasi dan games yang menjadi yang terbaik di tingkat pra-sekolah dan taman kanak-kanak memiliki keutamaan pada fiturnya yang ramah terhadap pengguna dengan penggunaan warna-warna cerah dan karakter yang menarik untuk anak-anak usia dini. Beberapa pemenang kategori ini antara lain Belajar Berhitung dari PaperPlay Studio dan Marbel Angka dari Educa Studio yang memfokuskan pada pembelajaran angka-angka dan operasi matematika sederhana.

Masih di kategori yang sama ada Pippo Belajar Alfabet dari Arsanesia, Belajar Menulis Bersama Boci karya Rolling Glory, dan Say It! ABC yang dibuat oleh Sawo Studio yang memilih untuk pengenalan alfabet dan tulisan. Sedangkan La.. La.. La.. – Lantunan Lagu Lagu Anak Indonesia dari Gundu Productions mengangkat tema lagu-lagu anak Indonesia yang sekarang mulai ditinggalkan.

Sementara untuk kategori Sekolah Dasar topik-topik yang diangkat lebih beragam mulai dari aplikasi belajar matematika yang oleh Marbel Berhitung dan Mencongak Perkalian, belajar IPA oleh Marbel Bagian Tubuh, aplikasi konten edukasi ilmu geografi dan ilmu sosial dari Seagania karya B201 Developer Group, aplikasi Opera Merah Putih buatan Clooper Project yang mengajak pengguna untuk mengenal budaya, rumah daerah, kostum, serta kebudayaan dan adat masyarakat Indonesia hingga Aplikasi Tryout UN SD dari Omega Mediatama.

Country Manager Intel Indonesia Harry K. Nugraha yang mendukung tantangan ini memahami pentingnya peranan pengembang aplikasi lokal dalam mengawal konten edukasi anak negeri. Untuk itu ia mengungkapkan komitmen Intel untuk terus mendukung upaya yang mampu mengakselerasi pengmbang lokal untuk mengembangkan aplikasi dan games edukasi terbaik yang mendidik, menarik, positif, dan inovatif.

“Intel Indonesia memiliki komitmen untuk mendukung inovasi teknologi lokal dan pengintegrasian teknologi dalam pendidikan. Kerja sama dengan Dicoding ini merupakan salah satu bukti komitmen kami,” imbuh Harry.

Dicoding dan Intel Indonesia akan mengganjar para pemenang dengan XP (Experience Points) dengan total 90.000. XP sendiri merupakan experience points atau poin Dicoding yang dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik, seperti smartphone, laptop, dan hadiah-hadiah lainnya untuk memajukan kinerja developer menjadi lebih baik lagi.

“Dicoding berkomitmen untuk terus menjembatani kebutuhan pasar dengan keahlian yang dimiliki oleh para pengembang (developer). Salah satu kunci untuk memajukan pendidikan di tanah air adalah dengan menjadi penggagas sekaligus content creator teknologi yang tepat guna, bermanfaat, dan berwawasan budaya lokal Indonesia. Inilah yang berusaha kami bangun bersama Intel,” tutup Narenda.
Disclosure: DailySocial berinvestasi di Dicoding